Jan 8, 2012

Apa hukum memakai pil-pil pencegah kehamilan untuk wanita-wanita yang sudah bersuami

Pertanyaan.
Lajnah Daimah ditanya :
"Apa hukum memakai pil-pil pencegah kehamilan untuk wanita-wanitayang sudah bersuami ?"

 jawaban.Seorang istri tidak boleh menggunakan pil pencegah kehamilan karena takut banyak anak,atau karena harus memberikan tambahan belanja. Tetapi boleh menggunakannya untukmencegah kehamilan dikarenakan.

[a] Adanya penyakit yang membahayakan jika hamil
[b] Dia melahirkan dengan cara yang tidak normal bahkan harus melakukan operasi jikamelahirkan dan bahaya-bahaya lain yang serupa dengan hal tersebut.Maka dalam keadaan seperti ini boleh baginya mengkonsumsi pil pencegah hamil, kecuali jikaia mengetahui dari dokter spesialis bahwa mengkonsumsinya membahayakan si wanita dari sisilain"
[Fatawa Mar'ah Juz 2 hal 53]

II.FATAWA SYAIKH IBNU UTSAIMIN
Pertanyaan."Seorang ikhwan bertanya hukum KB tanpa udzur, dan adakah Udzur yang membolehkannya?"Jawaban.Para ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram,karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyari'atkan pernikahan kepadaumatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jikakaum muslimin berjumlah banyak, (maka hal itu) akan menimbulkan kemuliaan dankewibawaaan bagi mereka. Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmatAllah kepada Bani Israil."Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar" [Al-Isra : 6]

"Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu' [Al-A'raf : 86]
Kenyataanpun mennguatkan pernyataan di atas, karena umat yang banyak tidakmembutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depanmusuh-musuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab/usaha yang memutuskanketurunan sama sekali. Allahumma, kecuali dikarenakan darurat, seperti
:[a] Seorang Ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalamkeadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukanusaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan.
[b] Juga seperti wanita tertimpa penyakit di rahimnya, dan ditakutkan penyakitnya akanmenjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehingga rahimnya harus diangkat, makatidak mengapa.
[Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah Juz 2 hal. 974-975]

Pertanyaan."Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Danbolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?"

Jawaban.Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karenahal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya."Artinya : Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlombadalam banyak jumlahnya umat"
 [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa'i2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]
Dan karena banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, danbanyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil."Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar" [Al-Isra' : 6]

"Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu" [Al-A'raf : 86]

Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaandan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangkayang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinandan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan janji Allah dan firman-Nya."Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberirezekinya" [Hud : 6]

Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengankarunia-Nya.Berdasarkan penjelasan ini, jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnyabagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan duasyarat.
[a] Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untukhamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanyapenghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.
[b] Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak danketurunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalammasalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah pemakaiannya membahayakan atau tidak.Jika dua syarat di atas dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi halini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilanselamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut :
Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karenamasalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika seseorangmembatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan.Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari'at Islam, namunpencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.Adapun pertanyaan ketiga yang berkaitan dengan 'azal ketika berjima' tanpa adanya sebab,maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari JabirRadhiyallahu 'anhu.
"Artinya : Kami melakukan 'azal sedangkan Al-Qur'an masih turun (yakni dimasa nabiShallallahu 'alihi wa sallam)"
 [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa'i 2/71, IbnuHibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu'aim dalam Al-hilyah 3/61-62]Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarangnya.Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber'azal terhadap wanita merdeka(bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber'azal terhadap istri,karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber'azal tanpa ijin istri mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklahsempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.Berdasarkan keterangan ini maka 'azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untukmendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri".Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li'umumilUmmah

0 komentar

click to leave a comment!

 

Pilih Ustadz

Shinse Abu Muhammad Fariz Al Qiyanji (4) Syaikh Abul Hasan Ali Jaadullah Al Mishry (1) Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al atsary (10) Syaikh Badr Al Badr (1) Syaikh DR Sa'ad Nashir Asy Syatsri (3) Syaikh Dr.Abdurrohman At Thuraif (1) Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif (2) Syaikh Musa alu Nasr (2) syaikh Prof.Dr. Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Badr (6) Syaikh Wasyihullah Abbas (8) Ustadz Aan Chandra Thalib (3) Ustadz Abdul Barr (19) Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat (14) Ustadz Abdul Halim LC (1) Ustadz Abdul Jabbar (6) Ustadz Abdul Khaliq Lc (1) Ustadz Abdul Malik (10) ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani (72) Ustadz Abdul Muhsin Firanda (117) Ustadz Abdul Qadir Abu Faizah Lc (2) Ustadz Abdullah Amin (15) Ustadz Abdullah Roy MA (1) ustadz Abdullah Sholeh Hadromi (8) Ustadz Abdullah Sya'roni (7) Ustadz Abdullah Taslim (52) Ustadz Abdullah Zaen MA. (59) Ustadz Abdurrahim (1) Ustadz Abdurrahman Al Atsary (1) Ustadz Abdurrahman Ayyub (9) Ustadz Abdurrahman Dani (1) Ustadz Abdurrahman Hadi LC (2) Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc (25) Ustadz Abdurrahman Yusak Lc (1) Ustadz Abdussalam Busyro Lc (3) Ustadz Abu Yasir MA (2) Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami M.Ag (6) Ustadz Abu Abdirrahman Thoriq (1) Ustadz Abu Adib (1) Ustadz Abu Ahmad Rochmad (1) ustadz Abu Ammar Al Ghoyami (19) Ustadz Abu Fairus Lc (25) Ustadz Abu Fawwaz Dani Priyanto (2) ustadz Abu Haidar As Sundawy (45) Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali (2) Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary M.A (19) Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam (5) Ustadz Abu Islama Imanuddin Lc (7) Ustadz Abu Ismail Muslim Al-Atsary (1) Ustadz Abu Izzi Masmu'in (18) Ustadz Abu Jundi (1) Ustadz Abu Khaleed Reza Gunarsa Lc (13) Ustadz Abu Muhammad Ahmad Halim (1) Ustadz Abu Mush'ab (1) Ustadz Abu Nabil Aziz Asmana Lc (2) Ustadz Abu Qotadah (48) Ustadz Abu Sa'ad MA (19) Ustadz Abu Salma Rifaindry Lc (1) Ustadz Abu Salman BA (3) Ustadz Abu Sumayyah Beni Sarbeni Lc (3) Ustadz Abu Thohir Jones Vendra Lc (2) Ustadz abu Ubaidah Yusuf As Sidawi (9) Ustadz Abu Umar Basyier (2) Ustadz Abu Umar Indra (1) Ustadz Abu Unais Ali Subana (1) Ustadz Abu Usamah Syamsul Hadi Lc (4) Ustadz abu ya'la kurnaedi Lc (8) Ustadz Abu Yusuf (1) Ustadz Abu Yusuf Ubaid Bima (1) Ustadz Abu Zubier Hawary Lc (51) Ustadz Ade Agustian Lc (3) Ustadz Aep Saepullah Lc (2) Ustadz Afifi Abdul Wadud (22) Ustadz Agus Hasan Bashori Lc (6) Ustadz Ahmad Bazher (1) Ustadz Ahmad Daniel Lc (1) Ustadz Ahmad Faiz Asifudin Lc (2) Ustadz Ahmad MZ (8) Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif LC (2) Ustadz Ahmad Zainuddin LC (158) Ustadz Ali Ahmad (5) Ustadz Ali Basuki Lc (20) Ustadz Ali Hasan Bawazier Lc (2) Ustadz Ali Nur LC (16) Ustadz Ali Saman Hasan MA (1) Ustadz Amir As Soronjy Lc (6) Ustadz Ammi Nur Baits (20) Ustadz Amrullah Akadhinta ST (2) Ustadz Anas Burhanuddin MA (8) Ustadz Andy Fahmi Lc (1) Ustadz Andy Oktavian Latief (3) Ustadz Arif Budiman Lc (9) Ustadz Arif Fathul Ulum Lc (3) Ustadz Arif Syarifuddin Lc (1) Ustadz Arifin Badri (21) Ustadz Arifin Ridin Lc (1) ustadz Aris Munandar Ss. (49) Ustadz Arman Amri Lc (2) Ustadz Asas El Izzi Lc (1) Ustadz Askar Wardhana Lc (2) Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron Lc (13) Ustadz Ayman Abdullah Lc (1) Ustadz Ayub Abu Ayub (7) Ustadz Azhar Khalid Seff (4) Ustadz Bachtiar Lc (2) ustadz Badrussalam LC (94) Ustadz Bagus jamroji Lc (5) Ustadz Bambang Abu Ubaidillah Al Atsary (3) Ustadz Campuran (37) Ustadz Djazuli (2) Ustadz DR Ade Hermansyah Lc (1) Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai MA (13) Ustadz Dr Firdaus Sanusi MA (7) Ustadz DR. Erwandi Tirmidzi MA (17) Ustadz DR. Syafiq Basalamah MA. (135) Ustadz DR.Ali Musri Lc (25) Ustadz Dr.Dasman Yahya Ma'aly MA (2) Ustadz Dr.Khalid Basalamah MA (32) Ustadz Dr.Muhammad Nur Ihsan MA (10) Ustadz dr.Raehanul Bahraen (5) Ustadz Drs Salim bin Yahya Qibas (3) Ustadz Dzikrullah Arza Lc (2) Ustadz Dzulqarnain (129) Ustadz Fachrudin Nu'man Lc (3) Ustadz Fadlan Fahamsyah Lc (5) Ustadz Farhan Abu Furaihan (5) Ustadz Farhan Abu Mu'adz (1) Ustadz Farid al Bathothy Lc (1) Ustadz Farid Okbah MA (2) Ustadz Fariq Gasim Anuz (7) Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawiy (10) Ustadz Fuad Basewadan (1) Ustadz Fuad Hamzah Baraba' Lc (1) Ustadz Hafidz Al Musthofa Lc (1) Ustadz Haikal Ali Basyarahil Lc (1) Ustadz Hamzah Abbas Lc (3) Ustadz Haris Abu Naufal (1) Ustadz Hermawan Lc (2) Ustadz Hizbul Majid (1) Ustadz Hudzaifah (3) Ustadz Husain Mubarok Lc MA (1) Ustadz Hussain Yee (1) Ustadz Ibnu Yunus (6) ustadz Ilham Thabrani (1) Ustadz Ja'far Shalih (6) Ustadz Jauhari Lc (3) Ustadz Jazuli Lc (3) Ustadz Jefry Halim MA (1) Ustadz Khailid Abdus Shomad Lc (1) Ustadz Khairullah Lc (1) Ustadz Khalid Samsudi (8) ustadz Khaliful Hadi (15) Ustadz Khidir bin Muhammad Sanusi (37) Ustadz La Ode Abu Hanafi (1) Ustadz Luqman Jamal Lc (1) Ustadz Mahfudz Umri LC (13) Ustadz Mahful Safarudin Lc (4) Ustadz Masrur Zainuddin Lc (1) Ustadz Maududi Abdullah Lc (46) Ustadz Mizan Qudsiyah Lc (21) Ustadz Mubarok Bamuallim (11) Ustadz Muflih Safitra (3) Ustadz Muhajir Jamaluddin (1) Ustadz Muhammad Abduh Tausikal (13) Ustadz Muhammad Elvi Syam Lc (18) Ustadz Muhammad Hamid Alwi Lc (1) Ustadz Muhammad Naim Lc (11) Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc (67) Ustadz Muhammad Qasim Muhajir Lc (6) Ustadz Muhammad Romelan Lc (5) Ustadz Muhammad Sanusi (1) Ustadz Muhammad Tamrin Lc (1) Ustadz Muhammad Taufiq bin Badri Lc (1) Ustadz Muhammad Ulin Nuha Muhtadi (1) Ustadz Muhammad Wasitho (6) Ustadz Muhammad Wujud Arbain Lc (1) Ustadz Muhammad Yahya (1) ustadz Muhammad Yassir Lc (1) Ustadz Muhtarom (17) Ustadz Mujahid Abu Kholil (1) Ustadz Musaddad Al-Kutawi (4) Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsary (3) Ustadz Mustamin Musaruddin Lc (2) Ustadz Musthofa Al Buthoni (6) Ustadz Musyafa' Addariny MA (3) Ustadz Nafi' Zainuddin Lc (2) Ustadz Najmi Umar Bakkar (3) Ustadz Nashr Abdul karim Lc (1) Ustadz Nizar Sa'ad Jabal Lc (4) Ustadz Nuruddin Bukhori (1) Ustadz Rishky Abu Zakaria (3) Ustadz Riyadh Badr Bajrey Lc (15) Ustadz Rizal Zuliar Putrananda (13) Ustadz Rizki Amipon Dasa (1) Ustadz Sa'id Abu Ukasyah Lc (3) Ustadz Said Ruslan (3) Ustadz Said Yai Lc (4) Ustadz Salim Ghanim Lc (1) Ustadz Salim Muhdor Lc MA (1) Ustadz Salman Mahmud (8) Ustadz Sanusi Daris (4) Ustadz Slamet Wahyudi (1) Ustadz Sofyan Chalid Ruray (72) Ustadz Subhan Bawazier (19) Ustadz Subkhan Khadafi Lc (2) Ustadz Sufyan bin Fuad Basweidan (7) Ustadz Sulaiman Rasyid ST (1) Ustadz Sulam bin Mustaredja (1) Ustadz Suryana Lc (1) Ustadz Syahrul Fatwa (1) Ustadz Syariful Mahya Lubis Lc MA (1) Ustadz Umar Al Fanani Lc (2) Ustadz Umar Jawwas (1) Ustadz Urfa Furota (1) Ustadz Wira Mandiri Bachrun (20) ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (35) Ustadz Yusron Mustofa S.Ag (2) Ustadz Yusuf Utsman Ba'isa Lc (1) Ustadz Zaid Susanto Lc (16) Ustadz Zainal Abidin Lc (42) Ustadz Zainuddin Lc (2) Ustadz Zakaria Ahmad (4)