Searching...
8 Jan 2012

Hukum sekitar menyembelih hewan kurban

A. Menyembelih kurban harus lillahi ta'ala Firman Allah Ta’ala :
(artinya): ”Katakanlah: Sesungguhnya shalatku,penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Penguasasemesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; demikian itulah yang diperintahkan kepadakudan aku adalah orang yang pertama berserah diri (kepada-Nya).” (Al-An’am:162-163) “Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban (untuk-Nya).” (Al-Kautsar: 2)Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah

menuturkan kepadaku empat kalimat: "Allah melaknat orang yang menyembelihbinatang dengan berniat bukan Lillah, Allah melaknat orang yang melaknat keduaorang tuanya
, Allah melaknat orang yang melindungi seorang pelaku kejahatan,Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah.” (H.R. Muslim)

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorangmasuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana halitu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati suatukaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorangpun melewati berhala itusebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: “Persembahkan kurbankepadanya.” Dia menjawab: “Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapatkupersembahkan kepadanya.” Merekapun berkata kepadanya lagi: “Persembahkansekalipun seekor lalat.” Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat danmerekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya, maka diamasuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: “Persembahkan kurban kepadanya.“ Dia menjawab: “Aku tidak patutmempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Kemudianmereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga.” (H.R. ImamAhmad)Kesimpulan :

1. Tafsiran ayat dalam surah Al-An’am. Ayat ini menunjukkan bahwa penyembelihanbinatang untuk selain Allah adalah syirik, sebagaimana shalat selain Allah.

2. Tafsiran ayat dalam surah Al-Kautsar. Ayat ini menunjukkan bahwa shalat danpenyembelihan adalah ibadah yang harus diniati untuk Allah semata-mata, danpenyelewengan niat ini dengan ditujukan untuk selain Allah adalah syirik.

3. Dalam hadits tersebut diatas, pertama kali yang dilaknat adalah orang yangmenyembelih binatang dengan niat bukan Lillah.

4. Dilaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya; dan diantaranya adalahdengan melaknat bapak ibu orang lain, lalu orang lain ini melaknat bapak ibu orangtersebut.

5. Dilaknat orang yang melindungi seorang pelaku kejahatan yaitu orang yangmemberikan perlindungan kepada seseorang yang melakukan tindak kejahatanyang wajib diterapkan kepadanya hukum Allah.

6. Dilaknat pula orang yang merubah tanda batas tanah, yaitu mengubah tandayang membedakan antara hak milik seseorang dengan hak milik tetangganyadengan digeser maju atau mundur.

7. Ada perbedaan melaknat orang tertentu dan melaknat orang yang berbuatmaksiat secara umum.

8. Kisah seekor lalat tersebut merupakan kisah yang penting sekali.

9. Bahwa seorang yang masuk neraka itu disebabkan karena ia persembahkankurban lalat yang dia sendiri tidak sengaja berbuat demikian, akan tetapi diamelakukan hal tersebut untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemujaberhala itu.

10. Mengetahui kadar syirik dalam hati orang yang beriman, bagaimana ketabahanhatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untukmemenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalanlahiriah saja

11. Orang yang masuk neraka tersebut adalah seorang muslim sebab seandainyadia orang kafir, Rasulullah tidak akan bersabda: ”…masuk neraka karena seekorlalat…”

12. Hadits ini merupakan suatu bukti bagi hadits shahih yang menyatakan: “Surgaitu lebih dekat kepada seseorang diantara kamu daripada tali sandalnya sendiri, dannerakapun demikian halnya.” 13. Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang penting, sampaipun bagipara pemuja berhala.(Dikutip dari “Kitab Tauhid”, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, KerjasamaDa’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418H)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!