Searching...
30 Sep 2012

MEMBAYAR ZAKAT FITHRI, QURBAN DAN AQIQAH DENGAN UANG

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Bagaimanakah hukum 

menyerahkan uang senilai zakat fithri, senilai binatang qurban 

dan aqiqah untuk membeli makanan atau kambing yang disembelih di 

negara lain dan dibagikan kepada orang-orang faqir disana?

Jawaban.

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد وعلى آله وصحبه وبعد‏:

Allah Azza wa Jalla berfirman : 

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang 

dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah" [1]. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

‏مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا؛ فَهُوَ رَدٌّ‏

"Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintah 

dari kami, maka amalan itu tertolak". [HR Imam al Bukhari]

Pada zaman ini, ada sebagian orang yang berusaha merubah ibadah 

dari ketentuan syar’i. Dalam hal ini, terdapat banyak contoh. 

Misalnya, zakat fithri. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 

memerintahkan agar mengeluarkan zakat dari makanan di negara 

yang seorang muslim bermukim, pada akhir bulan Ramadhan. Zakat 

itu diserahkan kepada para fakir miskin di negeri itu [2]. Lalu 

ada orang yang memberikan fatwa bolehnya menyerahkan uang 

sebagai ganti dari makanan. Ada lagi yang memberikan fatwa 

bolehnya menyerahkan uang untuk membeli makanan di negeri lain 

yang jauh dari negeri pemberi zakat dan dibagikan disana. Ini 

termasuk bentuk merubah ibadah dari ketentuan syari’at. 

Zakat fithri memiliki waktu tertentu untuk mengeluarkannya, 

yaitu malam hari raya atau dua hari sebelumnya, menurut para 

ulama. Begitu juga (zakat fithri) memiliki ketentuan daerah 

untuk membayarkannya, yaitu di tempat seorang muslim 

menghabiskan bulan (pada Ramadhan) tersebut. Dalam (membagikan) 

zakat, juga terdapat kekhususan yang berhak menerimanya. Yaitu 

orang-orang miskin di negeri tersebut. Dan (zakat fithri) juga 

mempunyai ketentuan jenisnya, yaitu makanan pokok. Oleh karena 

itu, haruslah terpenuhi kriteria-kriteria ini. Jika tidak, maka 

zakat itu termasuk ibadah yang benar dan juga tidak bisa 

melepaskan seseorang dari beban. 

Para imam yang empat telah sepakat tentang wajibnya mengeluarkan 

zakat fitrah di negera tempat si pemberinya berada, selama di 

negara itu ada orang yang berhak. Hai-ah Kibaril Ulama (Lembaga 

Ulama Besar) di Saudi juga sudah mengeluarkan ketetapan. 

Ketentuan ini seharusnya diperhatikan, dan jangan terpengaruh 

dengan seruan orang untuk melanggarnya. Karena seorang muslim 

seharusnya antusias untuk melepaskan dirinya dari beban dan 

berhati-hati demi agamanya. Demikian (juga dengan) seluruh 

ibadah, semuanya harus ditunaikan sesuai dengan ketentuan-

ketentuan jenis, waktu dan pelaksanaannya. Tidak boleh merubah 

jenis ibadah yang telah disyari’atkan Allah Azza wa Jalla kepada 

jenis yang lain. 

Contoh lain, yaitu fidyah puasa yang berkaitan dengan orang yang 

sudah tua dan sakit parah, sehingga tidak bisa melaksanakan 

ibadah puasa. Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka untuk 

memberikan makan satu orang fakir sebagai ganti puasa satu hari. 

Allah berfirman :

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُونَهُ، فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ

"Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika 

mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan 

seorang miskin". [3]

Begitu juga memberikan makanan dalam masalah kaffarah, seperti 

kafarah zihar (menyamakan punggung isteri dengan punggung ibu), 

kaffarah karena melakukan hubungan suami isteri saat siang bulan 

Ramadhan dan kaffarat sumpah. Begitu pulalah mengeluarkan 

makanan untuk zakat fithri. 

Semua jenis ibadah ini harus menyerahkan makanan, tidak cukup 

dengan cara mengeluarkan uang. Karena (membayar dengan uang) itu 

termasuk merubah ibadah dari jenis yang diwajibkan. Karena Allah 

Azza wa Jalla mengatakan "dengan memberikan makanan." Oleh 

karena itu, wajib berpegang dengannya. Barangsiapa yang tidak 

berpegang dengannya, berarti dia telah merubah ibadah dari jenis 

yang diwajibkan.

Begitu juga dalam masalah al hadyu (denda dalam ibadah haji), 

kurban dan aqiqah kelahiran. Pada ibadah-ibadah ini, 

pelaksanaanya ialah harus dengan menyembelih jenis binatang 

ternak yang memenuhi syarat, tidak cukup dengan mengeluarkan 

uang atau menyerahkan shadaqah senilai harganya, karena 

menyembelih itu merupakan ibadah. Allah berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

"Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan berkurbanlah".[4] 

Allah berfirman :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Katakanlah : "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan 

matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam".[5] 

Memakan daging sembelihan ini, juga menyedekahkannya adalah 

ibadah. Allah berfirman :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ 

"Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) 

berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir". 

[6]

Sehingga tidak boleh dan juga tidak cukup hanya dengan 

menyerahkan uang senilai atau bershadaqah dengan uang, sebagai 

ganti dari menyembelih. Karena ini termasuk merubah ibadah dari 

jenis yang diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla. Sedangkan hewan 

sembelihan ini harus disembelih di tempat yang disyari’atkan 

oleh Allah Azza wa Jalla.

Al hadyu (hewan yang dihadiahkan ke Makkah. Pemberian ini, ada 

kalanya karena melakukan pelanggaran, maka pemberian ini disebut 

Dam, sedangkan yang bukan karena pelanggaran tetap namanya Al 

hadyu) disembelih di al Haram (Mekkah). Allah berfirman :

لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

"Kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah 

setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)". [7] 

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang yang sedang 

mengenakan pakaian ihram yang membawa al hadyu :

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

"dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum qurban sampai ke 

tempat penyembelihannya". [8]

Sedangkan dalam masalah qurban dan aqiqah, maka keduanya 

disembelih di negara si pelaku dan di rumahnya, dia makan dan 

bershadaqah dengannya. Tidak memindahkan dengan mengirim uang 

yang setaraf nilainya untuk dibelikan hewan sembelihan di negara 

lain, sebagaimana yang dilontarkan sebagian penuntut ilmu yang 

baru belajar atau sebagian orang awam, dengan alasan di sebagian 

negara (lain) terdapat orang-orag miskin yang membutuhkan 

bantuan.

Kami katakan, menolong kaum Muslimin yang membutuhkan bantuan 

diperintahkan di manapun tempatnya. Akan tetapi, ibadah yang 

Allah perintahkan agar dilakukan pada tempat tertentu, tidak 

boleh dipindahkan ke tempat lain. Karena (perbuatan seperti) ini 

termasuk salah satu bentuk merubah ibadah yang telah 

disyari’atkan Allah Azza wa Jalla. Mereka membuat kegelisahan di 

masyarakat, sehingga sering menanyakan masalah ini. 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengirimkan al hadyu 

agar disembelih di Mekkah, padahal beliau Shallallahu 'alaihi wa 

sallam muqim (tinggal) di Madinah[9], dan beliau Shallallahu 

'alaihi wa sallam menyembelih qurban dan aqiqah di rumahnya di 

Madinah, tidak dikirim ke Mekkah, padahal Mekkah lebih baik 

daripada Madinah. Dan di Mekkah juga banyak orang fakir, yang 

terkadang lebih membutuhkan bantuan dibandingkan orang-orang 

fakir di Madinah. Meski demikian, Rasulullah Shallallahu 'alaihi 

wa sallam berpegang dengan tempat yang telah Allah syari’atkan 

untuk melaksanakan ibadah itu. Beliau Shallallahu 'alaihi wa 

sallam tidak menyembelih al hadyu di Madinah, dan tidak 

mengirimkan qurban dan aqiqah ke Mekkah. Rasulullah menyembelih 

masing-masing jenis pada tempat yang disyari’atkan.

Ya, memang tidak mengapa mengirimkan daging yang melimpah yang 

berasal dari hadyut-tamattu` dan hadyut-tathawwu`, -tapi bukan 

yang berasal dari hewan tebusan- juga bukan yang berasal dari 

qurban ke negeri yang membutuhkan. Akan tetapi penyembelihannya 

tetap dilakukan di tempat (daerah) yang telah disyari’atkan. 

Barangsiapa yang ingin membantu saudara-saudaranya yang sedang 

membutuhkan bantuan di negara lain, maka hendaklah dia 

membantunya dengan harta, pakaian dan makanan, atau segala 

sesuatu yang bermanfaat. Sedangkan ibadah, maka dia tidak boleh 

dirubah dari waktu dan tempatnya, (meski) dengan alasan membantu 

orang-orang di tempat lain yang membutuhkannya. Rasa kasihan 

tidak serta merta dengan (cara) merubah din (agama) dan ibadah. 

Wa shallahu 'sla Nabiyyina Muhammad wa 'alihi wa shahbihi wa 

sallam. 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427/2006M. 

Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi 

Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 

0271-858197]
________
Footnote
[1]. al Hasyr/59 : 7.
[2]. Lihat Sunan Abi Dawud, 2/114, 115, 117, 119; lihat juga 

Sunan at Tirmidzi, 3/34 dan 35; Sunan an Nasaa-i, 5/51-53 dan 

55)
[3]. al Baqarah/2:184.
[4]. al Kautsar /108 : 2.
[5]. al An’aam /6 : 162.
[6]. al Hajj/22 : 28.
[7]. al Hajj/22 : 3
[8]. al Baqarah/2 : 196.
[9]. Lihat Zaadul Ma’ad, 2/313.
sumber :almanhaj.or.id

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!