Sep 24, 2012

TUJUH PERKARA YANG INDAH PADA PANDANGAN MANUSIA


 Oleh Saiful 'Abu Zuhri' dari Salaf on facebook (Berkas)

Allah ta’ala berfirman :
{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ } [آل عمران: 14] .
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.(Ali ‘Imran: 14)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faedah yang dapat dipetik dari ayat yang mulia ini, diantaranya :
من فوائد الآية الكريمة:
1 ـ حكمة الله عزّ وجل في ابتلاء الناس بتزيين حب الشهوات لهم في هذه الأمور السبعة.

Hikmah Allah azza wa jalla dalam memberikan ujian kepada manusia yaitu dengan menghiasi tujuh perkara ini sehingga dipandang indah oleh mereka.
ووجه الحكمة : أنه لولا هذه الشهوات التي تنازع الإنسان في اتجاهه إلى ربه لم يكن للاختبار في الدين فائدة. فلو كان الإنسان لم يغرس في قلبه أو في فطرته هذا الحب لم يكن في الابتلاء في الدين فائدة؛ لأن الانقياد إلى الدين إذا لم يكن له منازع يكون سهلاً ميسراً، ولهذا أول من يستجيب إلى الرسل الفقراء الذين ـ غالباً ـ حرموا من الدنيا، لأنه ليس لديهم شيء ينازعهم لا مال ولا رئاسة ولا غير ذلك.
Sisi hikmahnya : Sesungguhnya seandainya bukan karena syahwat ini yang menghalangi manusia menghadap kepada Rabbnya niscaya ujian dalam agama itu tidak ada faedahnya. Seandainya dalam hati atau fitrah manusia tidak ada kecintaan terhadap syahwat ini niscaya ujian dalam agama tidak ada faedahnya. Karena sikap tunduk dan patuh terhadap aturan agama mudah untuk dilakukan jika tidak ada hambatan dan rintangan. Oleh karena itu orang yang pertama kali menyambut dan menerima dakwah Rasul secara umum adalah orang-orang faqir yang terhalangi dari mendapatkan dunia. Karena tidak ada hambatan dan rintangan bagi mereka,  tidak ada harta, kedudukan dan yang lainnya.
2 ـ أنه لا يذم من أحب هذه الأمور على غير هذا الوجه، وهو محبة الشهوة،
Sesungguhnya orang yang mencintai perkara ini tidaklah tercela kecuali jika cintanya semata-mata karena syahwat.
وذلك لأنه إذا زينت له محبة هذه الأمور لا لأجل الشهوة لم يكن ذلك سبباً لصده عن دين الله، لأن أكثر ما يفتن الإنسان الشهوة إذا لم يكن هناك شبهة، فإن كان هناك شبهة واجتمع عليه شبهة وشهوة حصلت له الفتنتان.
Jika kecintaan mereka kepada perkara ini bukan karena syahwat tidak akan menjadi penghalang dari jalan Allah. Karena kebanyakan yang menjadikan manusia terfitnah adalah syahwat, ini jika tidak dibarengi dengan syubhat. Namun jika disana ada syubhat maka terkumpul antara syubhat dan syahwat, sehingga ada dua fitnah.
 ويدل لذلك أن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: «حبّب إليّ من دنياكم النساء والطيب» [(37)]، ويدل لذلك أيضاً أن النبي صلّى الله عليه وسلّم رغَّب في النكاح وحثَّ عليه وأمر به الشباب [(38)]، والنبي صلّى الله عليه وسلّم حثّ على تزوج المرأة الولود [(39)]، والولود كثيرة الولادة، وإذا كانت ولوداً كثر نسلها، ومن نسلها البنون. فالمهم أن محبة هذه الأشياء لا من أجل الشهوة أمر لا يذم عليه الإنسان.
Dan yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dijadikan rasa cinta pada diriku dari dunia kalian yaitu wanita dan minyak wangi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga member motivasi untuk menikahi wanita al waluud, yaitu wanita yang mempunyai banyak anak. Jika dia seorang wanita yang waluud maka akan punya banyak keturunan, dan diantara keturunannya adalah anak-anak laki-laki. Pada intinya adalah bahwa kecintaan terhadap perkara-perkara ini jika bukan karena syahwat semata maka tidak tercela.
3 ـ قوة التعبير القرآني، وأنه أعلى أنواع الكلام في الكمال،
Bagusnya pemilihan kata (ibarah) dari Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah jenis perkataan yang paling sempurna.
ولهذا قال: { {حُبُّ الشَّهَوَاتِ} } ولم يقل: حبّ النساء، أو حبّ البنين، أو حبّ القناطير المقنطرة، بل قال: حبّ الشهوات من هذه الأشياء، فسلّط الحب على الشهوات، لا على هذه الأشياء، لأن هذه الأشياء حبها قد يكون محموداً.
Oleh karena itu Allah berfirman : “cinta kepada syahwat” dan tidak mengatakan cinta kepada wanita, cinta kepada anak-anak laki-laki atau cinta kepada harta yang banyak. Akan tetapi mengatakan cinta kepada syahwat dari perkara-perkara tersebut. Dia cinta atas dasar syahwat, bukan karena perkara-perkara tersebut, karena cinta kepada perkara tersebut terkadang malah terpuji.
4 ـ تقديم الأشد فالأشد،
Lebih mendahulukan (waspada) terhadap perkara yang paling berbahaya kemudian perkara bahaya yang lainnya.
ولهذا قدَّم النساء، ففتنة شهوة النساء أعظم فتنة، ولهذا قال النبي عليه الصلاة والسلام: «ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء» [(40)]. ولهذا بدأ بها فقال: { {مِنَ النِّسَاءِ} }.
Oleh karena itu didahulukan wanita, karena fitnah cinta kepada syahwat berupa wanita merupakan fitnah yang paling besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan suatu fitnah bagi para laki-laki yang lebih berbahaya daripada fitnah wanita.”
Oleh karena itu ayat ini dimulai dengan fitnah wanita, Allah berfirman “dari wanita”
5 ـ أن البنين قد يكونون فتنة،
Sesungguhya anak-anak laki-laki terkadang bisa menjadi fitnah (ujian).
ويشهد لذلك قوله تعالى: {{أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ}} [الأنفال: 28] ، والأولاد أعم من البنين.
Yang menguatkan hal ini adalah firman Allah ta’ala : “Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah.” (Al Anfal : 28) Dan yang namanya anak-anak laki-laki (al awlaad) lebih umum dari pada al baniin.
6 ـ أن الذهب والفضة من أشد الأموال خطراً على الإنسان،
Sesungguhnya emas dan perak termasuk harta yang paling berbahaya (perlu diwaspadai) bagi manusia.
ولهذا قدَّمها على بقية الأموال، فقال: { {وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ} } لأنها أعظم المال فتنة، لا سيما الموصوفة بهذه الصفة، أنها قناطير مقنطرة.
Oleh karena itu Allah mendahulukannya daripada harta-harta yang lainnya. Dia berfirman : “harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” Karena emas dan perak adalah fitnah harta yang paling besar. Terlebih lagi disifati dengan harta yang banyak.
7 ـ أنه كلما كَثُرَ المال ازدادت الفتنة في شهوته؛
Sesungguhnya semakin bertambahnya harta akan menambah fitnah kepada syahwat atau kecintaan kepadanya.
لقوله: { {وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ} }.
Berdasarkan firman-Nya : “harta yang banyak dari jenis emas dan perak”
ولهذا نجد بعض الفقراء يجود بكل ماله، والغني لا يجود بكل ماله، بل بعض الأغنياء ـ نسأل الله العافية ـ يبتلون كلما كَثُر مالهم اشتد بخلهم ومَنْعهم.
Oleh karena itu kita mendapati sebagian fuqaraa lebih dermawan kepada hartanya sedangkan orang-orang kaya tidak demikian. Bahkan sebagian orang kaya –kita meminta keselamatan kepada Allah- setiap kali bertambah hartanya maka akan semakin bakhil dan menahan hartanya.
8 ـ أن الخيل أعظم المركوبات فخراً،
Sesungguhnya kuda merupakan tunggangan yang paling bisa membuat orang bangga dan sombong.
ولا سيما إذا كانت مسومة أي: معلمة معتنى بها، أو مسومة مطلقة في المراعي معتنى بها في رعيها، فإنها تكون أعظم المركوبات فتنة.
Terlebih lagi jika dia kuda pilihan yaitu kuda yang terlatih atau dipilihkan rumput khusus baginya, maka dia menjadi sebesar-besar tunggangan yang bisa menjadi fitnah.

9 ـ أنَّ فتنة الأنعام ـ الإبل والبقر والغنم ـ دون فتنة الخيل بناءً على الترتيب، والترتيب في هذه الآية يكون من الأعلى إلى الأدنى.
Sesungguhnya fitnah dari binatang ternak berupa onta, sapi dan kambing masih lebih rendah dari pada fitnah kuda karena ayat diatas disebutkan secara berurutan. Urutan dari ayat diatas adalah mulai fitnah terbesar kemudian fitnah yang dibawahnya.
10 ـ أن من الناس من يفتن في الحرث بالزراعة،
Sesungguhnya sebagain manusia ada yang terfitnah dengan sawah ladang dan pertanian.
فيفتن بها ويزرع على الوجه المشروع وغير المشروع.
Maka dia terfitnah dengannya, dia bertani dengan sesuatu yang dibolehkan syariat maupun yang terlarang.
11 ـ أن هذه الأشياء كلها لا تعدو أن تكون متاع الحياة الدنيا؛
Sesungguhnya semua perkara diatas hanya sekedar kesenangan dunia.
لقوله: { {ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا} }.
Berdasarkan firman-Nya : “Itulah kesenangan hidup di dunia.”
12 ـ التزهيد في التعلق بهذه الأشياء؛
Hendaknya bersikap zuhud dan tidak bergantung kepada perkara-perkara diatas.
لقوله: { {ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا} } وكل ما كان للدنيا فلا ينبغي للإنسان أن يتبعه نفسه لأنه زائل، فلا تتبع نفسك شيئاً من الدنيا إلا شيئاً تستعين به على طاعة الله.
Berdasarkan firman-Nya : “Itulah kesenangan hidup di dunia.” Dan semua yang bersifat duniawi maka tidak selayaknya bagi manusia untuk mengikutinya karena dunia pasti akan berakhir. Janganlah engkau mengikuti sesuatu dari dunia ini kecuali sesuatu yang dapat membantu engkau untuk taat kepada Allah.
وأنت سوف تنال منه ما يناله من أتبع نفسه متاع الحياة الدنيا للدنيا، فمثلاً: الطعام، من الناس من يأكله لأجل أن يحفظ بدنه امتثالاً لأمر الله، واستعانة به على طاعة الله، فيؤجر على ذلك، ومن الناس من يأكله لمجرد شهوة ليملأ بطنه فيحرم هذا الأجر، لأنه نوى به مجرد الشهوة فقط.
Dan engkau akan mendapatkan bagian dari dunia sebagaimana bagian yang didapatkan oleh orang yang jiwanya memang cenderung untuk larut dengan kehidupan dunia. Misalnya : makanan, sebagaian manusia ada yang makan karena untuk menjaga badanya supaya bisa menjalankan perintah Allah dan membantunya untuk taat kepada Allah, maka dia mendapatkan pahala atas perbuatannya tersebut. Dan sebagian manusia makan semata-mata untuk mengenyangkan perutnya maka dia tidak mendapatkan pahala tersebut, karena niat makan dia semata-mata karena syahwat.
13 ـ تنقيص هذه الحياة؛
Rendahnya kehidupan dunia
لقوله: { {الْحَيَاةِ الدُّنْيَا} }، فوالله إنها لناقصة، إن داراً لا يدري الإنسان مدة إقامته فيها، وإن داراً لا يكون صفوها إلا منغصاً بكدرٍ، وإن داراً فيها الشحناء والعداوة والبغضاء بين الناس وغير ذلك من المنغصات؛ إنها لدنيا.
Berdasarkan firman-Nya : “kehidupan dunia” demi Allah ini untuk menunjukkan rendahnya dunia. Karena dunia adalah suatu negeri yang seseorang itu tidak tahu berapa lama dia akan tinggal di dalamnya. Dia adalah negeri yang kejerniahan didalamnya pasti disertai dengan kekeruhan. Dia adalah negeri yang dipenuhi oleh permusuhan dan kebencian diantara manusia dan  menyusahkan yang lainnya, itulah dunia.

14 ـ أن ما عند الله خير من هذه الدنيا؛
Sesungguhnya apa yang ada disisi Allah lebih baik dari dunia.
لقوله: { {وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ} }.
Berdasarkan firman-Nya : “dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
15 ـ ما أشار إليه بعضهم من أن من تعلق بهذه الأشياء تعلُّق شهوةٍ فإن عاقبته لا تكون حميدة؛
Apa yang diisyaratkan oleh sebagian ulama’ bahwa orang yang syahwatnya tergantung dengan perkara-perkara ini maka tidak akan mendapatkan hasil yang baik,terpuji.
لأن الله عندما ذكر التعلق على وجه الشهوة بهذه الأشياء قال: { {وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ} } فكأنه يقول: ولا حسن مآب لهذا المتعلِّق بهذه الأشياء أي: إن عاقبته ليست حميدة، هكذا ذكره بعضهم، ولكن في النفس منه شيء.
Karena ketika Allah menyebutkan ketergantungan terhadap perkara-perkara ini karena syahwat, Dia berfirman : “dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” Seolah-olah Dia berkata : Tidak ada tempat kembali yang baik bagi orang yang tergantung dengan perkara-perkara ini, yaitu akibat dan hasilnya tidak terpuji, inilah yang disebutkan oleh sebagian ulama’, namun menurut pendapatku ini kurang tepat.

والذي يظهر لي أن الآية ختمت بهذا: { {وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ} } من أجل ترغيب الإنسان فيما عند الله عزّ وجل، وأن لا يتعلق بمتاع الحياة الدنيا، ويدل لما ذكرتُ قوله: {{قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ}} [آل عمران: 15] .
Adapun yang lebih tepat menurut pendapatku adalah bahwa ayat ini yang ditutup dengan : “dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” Tujuannya untuk member motivasi kepada manusia untuk mendapatkan dan mencari apa yang ada disisi Allah azza wa jalla dan tidak tergantung dengan kesenangan kehidupan dunia. Yang menguatkan hal ini adalah firman-Nya setelahnya :“Katakanlah (wahai Nabi) maukah kalian aku kabarkan sesuatu yang lebih baik dari perkara tersebut.” (Ali ‘Imran : 15)
Sumber : http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18335.shtml

0 komentar

click to leave a comment!

 

Pilih Ustadz

Shinse Abu Muhammad Fariz Al Qiyanji (4) Syaikh Abul Hasan Ali Jaadullah Al Mishry (1) Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al atsary (10) Syaikh Badr Al Badr (1) Syaikh DR Sa'ad Nashir Asy Syatsri (3) Syaikh Dr.Abdurrohman At Thuraif (1) Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif (2) Syaikh Musa alu Nasr (2) syaikh Prof.Dr. Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Badr (6) Syaikh Wasyihullah Abbas (8) Ustadz Aan Chandra Thalib (3) Ustadz Abdul Barr (19) Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat (14) Ustadz Abdul Halim LC (1) Ustadz Abdul Jabbar (6) Ustadz Abdul Khaliq Lc (1) Ustadz Abdul Malik (10) ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani (72) Ustadz Abdul Muhsin Firanda (117) Ustadz Abdul Qadir Abu Faizah Lc (2) Ustadz Abdullah Amin (15) Ustadz Abdullah Roy MA (1) ustadz Abdullah Sholeh Hadromi (8) Ustadz Abdullah Sya'roni (7) Ustadz Abdullah Taslim (52) Ustadz Abdullah Zaen MA. (59) Ustadz Abdurrahim (1) Ustadz Abdurrahman Al Atsary (1) Ustadz Abdurrahman Ayyub (9) Ustadz Abdurrahman Dani (1) Ustadz Abdurrahman Hadi LC (2) Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc (22) Ustadz Abdurrahman Yusak Lc (1) Ustadz Abdussalam Busyro Lc (3) Ustadz Abu Yasir MA (2) Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami M.Ag (6) Ustadz Abu Abdirrahman Thoriq (1) Ustadz Abu Adib (1) Ustadz Abu Ahmad Rochmad (1) ustadz Abu Ammar Al Ghoyami (19) Ustadz Abu Fairus Lc (25) Ustadz Abu Fawwaz Dani Priyanto (2) ustadz Abu Haidar As Sundawy (45) Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali (2) Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary M.A (19) Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam (5) Ustadz Abu Islama Imanuddin Lc (7) Ustadz Abu Ismail Muslim Al-Atsary (1) Ustadz Abu Izzi Masmu'in (18) Ustadz Abu Jundi (1) Ustadz Abu Khaleed Reza Gunarsa Lc (13) Ustadz Abu Muhammad Ahmad Halim (1) Ustadz Abu Mush'ab (1) Ustadz Abu Nabil Aziz Asmana Lc (2) Ustadz Abu Qotadah (48) Ustadz Abu Sa'ad MA (19) Ustadz Abu Salma Rifaindry Lc (1) Ustadz Abu Salman BA (3) Ustadz Abu Sumayyah Beni Sarbeni Lc (3) Ustadz Abu Thohir Jones Vendra Lc (2) Ustadz abu Ubaidah Yusuf As Sidawi (9) Ustadz Abu Umar Basyier (2) Ustadz Abu Umar Indra (1) Ustadz Abu Unais Ali Subana (1) Ustadz Abu Usamah Syamsul Hadi Lc (4) Ustadz abu ya'la kurnaedi Lc (8) Ustadz Abu Yusuf (1) Ustadz Abu Yusuf Ubaid Bima (1) Ustadz Abu Zubier Hawary Lc (51) Ustadz Ade Agustian Lc (3) Ustadz Aep Saepullah Lc (2) Ustadz Afifi Abdul Wadud (22) Ustadz Agus Hasan Bashori Lc (6) Ustadz Ahmad Bazher (1) Ustadz Ahmad Daniel Lc (1) Ustadz Ahmad Faiz Asifudin Lc (2) Ustadz Ahmad MZ (8) Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif LC (2) Ustadz Ahmad Zainuddin LC (158) Ustadz Ali Ahmad (5) Ustadz Ali Basuki Lc (20) Ustadz Ali Hasan Bawazier Lc (2) Ustadz Ali Nur LC (16) Ustadz Ali Saman Hasan MA (1) Ustadz Amir As Soronjy Lc (6) Ustadz Ammi Nur Baits (20) Ustadz Amrullah Akadhinta ST (2) Ustadz Anas Burhanuddin MA (8) Ustadz Andy Fahmi Lc (1) Ustadz Andy Oktavian Latief (3) Ustadz Arif Budiman Lc (9) Ustadz Arif Fathul Ulum Lc (3) Ustadz Arif Syarifuddin Lc (1) Ustadz Arifin Badri (21) Ustadz Arifin Ridin Lc (1) ustadz Aris Munandar Ss. (49) Ustadz Arman Amri Lc (2) Ustadz Asas El Izzi Lc (1) Ustadz Askar Wardhana Lc (2) Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron Lc (13) Ustadz Ayman Abdullah Lc (1) Ustadz Ayub Abu Ayub (7) Ustadz Azhar Khalid Seff (4) Ustadz Bachtiar Lc (2) ustadz Badrussalam LC (94) Ustadz Bagus jamroji Lc (5) Ustadz Bambang Abu Ubaidillah Al Atsary (3) Ustadz Campuran (37) Ustadz Djazuli (2) Ustadz DR Ade Hermansyah Lc (1) Ustadz Dr Aspri Rahmat Azai MA (13) Ustadz Dr Firdaus Sanusi MA (7) Ustadz DR. Erwandi Tirmidzi MA (17) Ustadz DR. Syafiq Basalamah MA. (135) Ustadz DR.Ali Musri Lc (25) Ustadz Dr.Dasman Yahya Ma'aly MA (2) Ustadz Dr.Khalid Basalamah MA (32) Ustadz Dr.Muhammad Nur Ihsan MA (10) Ustadz dr.Raehanul Bahraen (5) Ustadz Drs Salim bin Yahya Qibas (3) Ustadz Dzikrullah Arza Lc (2) Ustadz Dzulqarnain (129) Ustadz Fachrudin Nu'man Lc (3) Ustadz Fadlan Fahamsyah Lc (5) Ustadz Farhan Abu Furaihan (5) Ustadz Farhan Abu Mu'adz (1) Ustadz Farid al Bathothy Lc (1) Ustadz Farid Okbah MA (2) Ustadz Fariq Gasim Anuz (7) Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawiy (10) Ustadz Fuad Basewadan (1) Ustadz Fuad Hamzah Baraba' Lc (1) Ustadz Hafidz Al Musthofa Lc (1) Ustadz Haikal Ali Basyarahil Lc (1) Ustadz Hamzah Abbas Lc (3) Ustadz Haris Abu Naufal (1) Ustadz Hermawan Lc (2) Ustadz Hizbul Majid (1) Ustadz Hudzaifah (3) Ustadz Husain Mubarok Lc MA (1) Ustadz Hussain Yee (1) Ustadz Ibnu Yunus (6) ustadz Ilham Thabrani (1) Ustadz Ja'far Shalih (6) Ustadz Jauhari Lc (3) Ustadz Jazuli Lc (3) Ustadz Jefry Halim MA (1) Ustadz Khailid Abdus Shomad Lc (1) Ustadz Khairullah Lc (1) Ustadz Khalid Samsudi (8) ustadz Khaliful Hadi (15) Ustadz Khidir bin Muhammad Sanusi (37) Ustadz La Ode Abu Hanafi (1) Ustadz Luqman Jamal Lc (1) Ustadz Mahfudz Umri LC (13) Ustadz Mahful Safarudin Lc (4) Ustadz Masrur Zainuddin Lc (1) Ustadz Maududi Abdullah Lc (46) Ustadz Mizan Qudsiyah Lc (21) Ustadz Mubarok Bamuallim (11) Ustadz Muflih Safitra (3) Ustadz Muhajir Jamaluddin (1) Ustadz Muhammad Abduh Tausikal (13) Ustadz Muhammad Elvi Syam Lc (18) Ustadz Muhammad Hamid Alwi Lc (1) Ustadz Muhammad Naim Lc (11) Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc (67) Ustadz Muhammad Qasim Muhajir Lc (6) Ustadz Muhammad Romelan Lc (5) Ustadz Muhammad Sanusi (1) Ustadz Muhammad Tamrin Lc (1) Ustadz Muhammad Taufiq bin Badri Lc (1) Ustadz Muhammad Ulin Nuha Muhtadi (1) Ustadz Muhammad Wasitho (6) Ustadz Muhammad Wujud Arbain Lc (1) Ustadz Muhammad Yahya (1) ustadz Muhammad Yassir Lc (1) Ustadz Muhtarom (17) Ustadz Mujahid Abu Kholil (1) Ustadz Musaddad Al-Kutawi (4) Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsary (3) Ustadz Mustamin Musaruddin Lc (2) Ustadz Musthofa Al Buthoni (6) Ustadz Musyafa' Addariny MA (3) Ustadz Nafi' Zainuddin Lc (2) Ustadz Najmi Umar Bakkar (3) Ustadz Nashr Abdul karim Lc (1) Ustadz Nizar Sa'ad Jabal Lc (4) Ustadz Nuruddin Bukhori (1) Ustadz Rishky Abu Zakaria (3) Ustadz Riyadh Badr Bajrey Lc (15) Ustadz Rizal Zuliar Putrananda (13) Ustadz Rizki Amipon Dasa (1) Ustadz Sa'id Abu Ukasyah Lc (3) Ustadz Said Ruslan (3) Ustadz Said Yai Lc (4) Ustadz Salim Ghanim Lc (1) Ustadz Salim Muhdor Lc MA (1) Ustadz Salman Mahmud (8) Ustadz Sanusi Daris (4) Ustadz Slamet Wahyudi (1) Ustadz Sofyan Chalid Ruray (72) Ustadz Subhan Bawazier (19) Ustadz Subkhan Khadafi Lc (2) Ustadz Sufyan bin Fuad Basweidan (7) Ustadz Sulaiman Rasyid ST (1) Ustadz Sulam bin Mustaredja (1) Ustadz Suryana Lc (1) Ustadz Syahrul Fatwa (1) Ustadz Syariful Mahya Lubis Lc MA (1) Ustadz Umar Al Fanani Lc (2) Ustadz Umar Jawwas (1) Ustadz Urfa Furota (1) Ustadz Wira Mandiri Bachrun (20) ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (35) Ustadz Yusron Mustofa S.Ag (2) Ustadz Yusuf Utsman Ba'isa Lc (1) Ustadz Zaid Susanto Lc (16) Ustadz Zainal Abidin Lc (42) Ustadz Zainuddin Lc (2) Ustadz Zakaria Ahmad (4)