Searching...
13 Okt 2012

HUKUM MENJAHRKAN BACAAN KETIKA SHOLAT SENDIRIAN


Apabila kita melaksanakan shalat jahr sendiri, apakah kita juga harus menjahrkan bacaan kita?
Koko – kok…@yahoo.com

Jawab:
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini

Alhamdulillah, apabila seseorang melaksanakan shalat jahr sendiri maka tidak diwajibkan (diharuskan) untuk menjahrkan bacaan, karena kata “harus” semakna dengan “wajib” yang artinya apabila ditinggalkan maka pelakunya berdosa. Akan tetapi disunnahkan hal itu baginya, dalam arti kalau dia melakukannya maka hal itu afdhal karena mendapatkan tambahan pahala dan kalau tidak dilakukan maka tidak mengapa. Karena hadits-hadits tentang permasalahan ini hanyalah berupa perbuatan Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam dan bukan perintah, sementara kaidah ushul fiqih menunjukkan bahwa perbuatan Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam hanyalah menunjukkan istihbab (sunnah) semata. Meskipun hadits-hadits tersebut berkaitan dengan shalat berjamaah akan tetapi Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam mengatakan:

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat shalatku.” (HR. Al-Bukhari dari Malik Ibnul Huwairits z.)
Hadits ini menunjukkan secara umum bahwa sifat shalat yang dilakukan secara berjamaah sama dengan sifat shalat yang dilakukan secara sendirian, kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan adanya perbedaan di antara keduanya. Apalagi terdapat hadits yang menunjukkan hal itu, yaitu hadits Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam menjahrkan bacaannya ketika beliau shalat malam sendirian di kamarnya (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat An-Nabi, hal. 108).
Begitu pula hadits bahwa Rasulullah  Shallahu 'alaihi wasallam mengajari Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu’anhum ketika masing-masing shalat malam, untuk menjahrkan suara mereka dengan tidak terlalu keras (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat An-Nabi, hal. 108-109). Sementara Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam pernah shalat malam berjamaah dengan Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu’anhum dan beliau  Shallahu 'alaihi wasallam menjahrkan bacaannya (HR. Muslim). Meskipun hadits ini berkaitan dengan shalat sunnah, akan tetapi kita mengatakan bahwa apa yang berlaku pada shalat sunnah juga berlaku pada shalat wajib kecuali ada dalil yang menunjukkan perbedaan di antara keduanya. Itulah sebabnya ketika para shahabat seperti Ibnu ‘Umar dan ‘Amir bin Rabi’ah radhiallahu’anhum meriwayatkan sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam shalat sunnah ketika sedang safar di atas untanya sesuai arah perjalanannya, meskipun mereka tidak menghadap kiblat. Maka mereka merasa perlu untuk mengatakan: “Dan Rasulullah r tidak melakukannya pada shalat wajib”, karena kekhawatiran akan dipahami bahwa hal itu juga berlaku pada shalat wajib1. Apa yang kami tetapkan adalah madzhab jumhur ulama, dan yang menyelisihi dalam hal ini adalah Abu Hanifah karena dia berpendapat bahwa orang yang shalat sendiri sama saja baginya, baik dia membaca dengan jahr atau sirr. (Lihat Al-Majmu’, 3/355)

1 Kaidah ini diterangkan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/252).

sumber :http://asysyariah.com/hukum-menjahrkan-bacaan-ketika-shalat-sendirian.html

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!