Searching...
13 Jun 2013

Bagaimana seorang mengobati dirinya ketika ada ajakan Riya' ?

oleh : Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid

Setiap kali saya melakukan sesuatu kebaikan, saya memandang ke orang-orang agar mereka mengapresiasikan pekerjaanku. Dengan kata lain, saya melakukan agar dilihat orang (riya). Saya tahu kalau riya tidak diboehkan dalam Islam, akan tetapi bagaimana caranya agar terlepas dari riya dan perasaan semacam ini?


Alhamdulillah


Bagi orang yang berkeinginan untuk melepaskan dari riya hendaknya mengikuti jalan ini dalam mengobati dirinya, diantaranya adalah:

1. Menghadirkan pengawasan Al ah Ta’ala kepada seorang hamba. Yaitu kedudukan ‘Ihsan’ yang disebutkan oleh Nabi sal al ahu alaihi wa sallam dalam hadits Jibril yaitu anda beribadah kepada Al ah seakan-akan anda melihat-Nya. Kalau tidak tidak dapat melihatnya, maka dia (pasti) melihat anda.”

(HR. Muslim, no. 97) Barangsiapa yang merasa diawasi oleh Allah pada setiap amalannya, maka akan sepele baginya semua pandangan orang dan lahir rasa pengagungan dan ketakutan kepada Al ah Ta’ala.

2. Memohon pertolongan kepada Al ah Ta’ala agar menjauhi riya.

Al ah Ta’ala berfirman tentang orang-orang mukmin, "Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" (QS. Al-Fatihah: 5) Yang bermanfaat dalam masalah ini adalah meminta pertolongan kepada Al ah dalam doanya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:


“Wahai manusia takutlah kamu semua dari syirik. Karena ia lebih tersembunyi dibandingkan langkah semut. Lalu ada yang bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulul ah, bagaimana kita membentenginya, sementara ia lebih lembut dari langka semut?" Maka beliau bersabda: “Katakanlah ‘Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari mensekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4/403. Dishahihkan oleh Syekh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami: 3731)

3. Mengetahui dampak riya dan hukumnya di akhirat. Sebab ketidaktahuan tentang hal ini mengakibatkan seseorang terjerumus di dalamnya. Hendaklah diketahui bahwa riya dapat menghapuskan amal dan mendapatkan kemurkaan Al ah. Orang yang berakal tentu tidak bersedia diri berlelah-lelah dengan beramal tanpa mendapatkan pahala. Bagaimana lagi kalau hal itu mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Al ah.

4. Di antara hadits yang paling agung terkait dengan hukuman di akhirat bagi orang yang (beramal) agar dilihat orang. Apa yang dikabarkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam kepada kita:

“Sesungguhnya Al ah Tabaroka wa Ta’ala ketika hari kiamat turun kepada para hamba untuk menetapkan keputusannya di antara mereka. Setiap umat akan berkumpul. Orang yang pertama kali dipangil adalah pembaca Al-Qur’an, orang yang berperang di jalan Al ah dan orang yang kaya. Al ah berfirman kepada Al-Qari (pembaca Al-Qur’an): “Bukankah Aku telah mengajarkan kepada anda melalui apa yang diturunkan kepada utusan-Ku." Dia menjawab, “Ya, wahai Tuhanku. (Al ah) bertanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan apa yang telah anda ketahui?" Dia menjawab, “Saya dahulu shalat dengannya siang malam." Al ah membantahnya, “Engkau bohong." Lalu para Malaikat juga mengatakan kepadanya,

“Engkau bohong." Lalu Allah berfirman, “Akan tetapi engkau ingin dikatakan bahwa si fulan adalah qori (pandai membaca) dan engkau telah dijuluki demikian. Kemudian didatangkan pemilik harta (orang kaya), Al ah bertanya kepadanya,

“Bukankah Aku telah melapangkan (harta) kepada engkau, hingga engkau tidak membutuhkan seorang pun." Dia menjawab, “Ya wahai Tuhanku." Al ah bertanya, “Apa yang engkau lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu?" Dia menjawab, “Dahulu aku menyambung silaturahim dan bershadaqah dengannya." Al ah membantahnya, “Engkau bohong." Dan para Malaikat mengatakan kepadanya, “Engkau bohong." Al ah berkata kepadanya, “Akan tetapi engkau ingin dikatakan bahwa si fulan dermawan. Dan engkau telah dijuluki demikian." Lalu didatangkan orang yang berperang di jalan Al ah. Allah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau terbunuh?" Dia menjawab, “Anda memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu. Maka saya berperang sampai terbunuh." Al ah membantahnya,”Anda bohong." Para malaikat juga berkata kepadanya, “Anda bohong." Al ah berkata kepadanya, “Akan tetapi anda ingin dikatakan si fulan pemberani, dan engkau telah dijuluki demikian." Kemudian Rasulullah sal al ahu alaihi wa sal am menepuk kedua pahanya dan mengatakan, “Wahai Abu Hurairah itulah tiga makhluk Al ah yang pertama kali di lemparkan ke neraka pada hari kiamat.” (HR. Tirmizi, no. 2382

dan beliau nyatakan hasan. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, no.

408 dan Ibnu Huzaimah, no. 2482) 5. Menghayati hukuman riya di dunia. Sebagaimana riya mendapatkan hukuman di akhirat, begitu juga ada hukuman di dunia. Yaitu Al ah akan mempermalukannya dan akan diperlihatkan niatnya yang jelek kepada orang-orang. Hal itu merupakan salah satu pendapat dalam penafsiran sabda Nabi sal al ahu alaihi wasal am:

“Barangsiapa yang (beramal) ingin didengarkan (oleh orang), maka Al ah akan memperdengarkannya. Dan barangsiapa yang 5





(beramal) agar dilihat (orang), maka Al ah akan perlihatkan.”

(HR. Bukhari, no. 6134 dan Muslim, no. 2986) Ibnu Hajar mengatakan, “Al-Khattabi mengatakan, maksudnya adalah barangsiapa yang beramal tanpa ikhlas, hanya ingin dilihat dan didengar oleh orang, maka akan dibalas dengan hal itu. Yaitu akan dipermalukan oleh Al ah dan menampakkan apa yang dia sembunyikannya.

Ada pula yang mengatakan bahwa barangsiapa yang amalannya dimaksudkan untuk mendapatkan kedudukan dan posisi dimata orang, tidak berniat karena Al ah. Maka Al ah jadikan perbincangan jelek di kalangan manusia bagi orang yang ingin mendapatkan posisi dan tidak mendapatkan pahala di akhirat. (Fathul Bari, 11/336) 6. Menyembunyikan ibadah dan tidak menampakkannya.

Semakin seseorang tidak menampakkan ibadahnya, maka dia semakin selamat dari riya. Barangsiapa yang tujuannya ingin dipuji di tengah khalayak, maka setan sangat berusaha untuk memperlihatkan ibadahnya agar dipuji dan disanjungnya.

Ibadah yang seyogyanya disembunyikan disini adalah yang tidak diwajibkan atau disunahkan menampakkannya seperti qiyamul lail, shodaqah dan semisalnya. Bukan seperti azan, shalat berjamaah dan semisalnya dimana tidak memungkinkan dan tidak dianjurkan menyembunyikannya.

Kita memohon kepada Al ah keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, dan semoga mengampuni kita apa sifat riya dan sum’ah yang pernah dilakukan. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad.

sumber : islamhouse.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!